Senin, 18 November 2013

KEMILAU DALAM SENJA

KEMILAU DALAM SENJA

            Jengah dengar banyak alasan dan bosan dengan banyaknya cerita yang keluar dari semua mulut orang tanpa tau apa itu hanya kabar angin atau memang yang di bisikkan oleh-Nya. Sana sini tak tahu malu mepertontonkan berebut singgah sana, hanya bisa berkata dan mencaci untuk mencari tahta.
            Semakin hari gencar menggencet siapa saja yang berani menghalangi, segala cara di halalkan agar bahagia di dunia tanpa mengingat tempat abadi. Setiap saya nyalakan kotak bergambar, saat saya mendengar celotehan yang sealu dapat di bawa kemana pun dan sampai suguhan di setiap pagi yang selalu menemani saat sarapan. Hanya itu saja yang selalu di gambarkan oleh dunia ini yang penuh dengan sandiwara.
            Tak pernah ada guna saya berbicara dengan semua orang apa yang sedang saya alami setiap hari, karena menurut saya benar apa yang di katakan oleh seorang ahli filsuf Thomas hobbes jangan menaruh kepercayaan pada orang lain, tetapi tegagkan kecurigaan. Karena setiap hari orang terus bersaing secara bebas untuk mempertahankan diri dan masing-masing hidup mengikuti nalurinya, maka tidak heran apabila mereka berlenggok bagai tak pernah sadar bayangan dosa selalu mengikuti kemana arah mereka pergi.
            Cuma satu yang saya percaya, yaitu dirimu. Itulah mengapa setiap malam saya selalu mencari mu untuk berbicang tentang masalah yang saya alami, atau bahkan perbicangan yang seharusnya tidak perlu kita perdebatkan. Tidak ada tempat lain untuk saya percaya selain pada dirimu, sudah saya bisikkan semua tentang kegelapan dalam hidup saya, cerita sendu saya hingga lubang-lubang semut yang hari itu hadir di kamar saya, saya ceritakan bukan? tak pernah ada yang terlewat sedikit.
            “Hari ini saya apes sekali”
            “Apa memang yang terjadi pada hari ini?”
“Sepatu baru saya tercebur dalam kubangan, saya buru-buru sehingga saya tidak melihat ada lubang dihadapan saya”
“Mengapa kau sepanik itu, sehingga kau tidak melihat ada kubangan”
“ heheehe seperti biasa saya mengejar kereta agar tidak tertinggal”

Ketika rasa sudah cukup tuk berbincang kepadanya, saya langsung bergegas menutup jendela, memadamkan lampu dan membungkus diri saya dengan selimut dengan rapat. Lega setiap saya habis berbincang dengannya, tidur bagai tak punya beban sehingga dapat menyambut pagi dengan senang gembira.
Gemercik air berebut untuk sampai ke bumi terdengar jelas dari dalam rumah, gemeletar dagu dan sepertinya hati tahu apa yang saya butuhkan saat ini, dengan cekatan tangan menarik  selumut yang entah sudah berada di bawah kasur sejak kapan.
Kriiiiiiiiing, setiap pagi suara itu selalu mengubah mimpi indah saya menjadi ingat akan rutinitas yang membosankan harus saya jalani. Langkah semakin jauh meninggalkan tempat tempat singgah saya semalam, gerimis dari semalam tak kunjung reda. Hari yang membuat susana ingin cepat pulang dan menarik selimut kembali. Jarum air turun tak beraturan, jatuh ke ubun-ubun dan meresap ke dalam kepala. Kadang membuat kepala berat seperti ada yang menghantam
Fajar kini telah menjadi senja, hari ini matahari sedang libur untuk bertugas, tapi saya  juga harus segera pulang sebelum gerimis ini berubah menjadi hujan lebat sehingga jalanan macet dimana-mana karena pohon rebahan di tengah jalan akibat tersambar kilat.
Sesampainya dirumah disambarnya handuk melilit kepala lalu mengusap-usap agar cepat kering rambut yang tadi basah. Di rumah itu selalu saja sepi tanpa berpenghuni karena penghuninya tak pernah ada di rumah kecuali di waktu malam hari dan itu pun hanya dirinya seorang diri yang mendiami rumah tersebut.
Saya beranjak menyiapkan air hangat untuk mandi sebelum semua penyakit menggrogoti tubuh ini, desir suara air dimasak menjurus kearah dapur, lemopat dari sofa serupa tupai menuju kamar mandi.
Stetlah selesai mandi, menyisir rambut dan memandang wajahnya lamat lamat didalam cermin. Ia ingat rutinitasnya selain bekerja di pagi hari, pada malam hari ia harus menengok dan bercerita panjang lebar seperti biasanya, ditaruhnya kopi yang baru saja ia buat di atas meja dan berjalan menuju jendela, terdengar dari balik jendela suara gemuruh masih terjaga, hujan!
Asap mengepul dari atas cangkir, aroma sedap manis dan pahit bercampur seakan-akan  memanggil-mangil dan menggoda untuk di seruput, wajah sendu muram terpancar dari rautmukanya.
“Aku tidak dapat bercerita kepada mu hari ini, maafkan aku”
Saya ucapkan kata maaf yang saya rangkai untuknya, saya merasa telah menghianati janji yang telah saya dan dirinya buat. Mungkin besok saya dapat menjelaskan semuanya apa yang terjadi dan kenapa saya tidak hadir di hadapan mu saat ini. Semua akan dapat terselesaikan kalau seandainya kamu memberikan kesempatan saya untuk menjelaskan semuanya sampai terperinci.
Sejak kemrin saya tak pernah melihat pancaran sinarnya.  Mungkin rintik hujan yang menghapus debu di jalan membuat dirimu tak nampak di kegelapan, saya buka kaca jendela yang dari matahari hadir di ufuk terkunci rapat, desir angin datang membawa kesejukan hingga mengeringkan keringat yang mengguyur di tubuh. Melewati helai demi helai rambut yang terkibas melayang di udara tak beraturan. Mendelik ke arah luar mencari seberkas sinarnya, rintik air masih terus mengalir dari atas langit. Menerka hingga menyipitkan mata, kemilau cahaya ia temukan.
“Ah itu dia akhirnya kau hadir sekarang, tetapi mengapa kamu seperti menghampiri saya”
Rasa cemas itu hinggap dalam hatinya, ditarik jaket yang sedang menggantung tepat di balik pintu. Saya panaskan sepeda bermesin tua yang sudah lama tak pernah ku gunakan semenjak kemacetan di kota semakin parah yang membuta saya selalu lelah dalam perjalanan dan lebih memilih jasa supir angkot dan masinis untuk mengantar saya ketempar mencari makan.
            “Tunggu aku!”
Bruuuuum melaju pesat mengikuti kemana arah kemilau sinar di angkasa itu berada, saya ingin lebih dekat melihatnya, saya sudah lama tak berjumpa dan bercerita padanya, saya takut kalau dirinya marah karena belakangan ini saya tidak memberi tahu kabar saya. Saya memang senang berbincang dengan mu.
Motor dan mobil seakan parkir di tengah-tengah jalan yang seharusnya malam ini lancar berlalu-lalang. Saya tekan pelatup yang berbunyi di motor, berkali-kali saya tekan, tapi tak ada sedikit pun yang beranjak dari tempat mereka. Saya mencari jalan lain agar tak kehilangan kemilaunya kembali. Saya putar kemudi mencari celah untuk keluar dari sana. Jalan kini lancar, kemilau masih saya ikuti dari bawahnya, senyum merkah terpancar pada wajarh saya saat saya lihat di kaca sepion motor, tiba-tiba.
“Ah sial ada apa lagi ini, tunggu saya kemilau”
Saya menamakan kemilau dalam senja, panggilan akrab saya terhadapnya karena selalu mendengarkan saya setiap keluh dan resah saya setiap fajar berganti senja.
“kenapa kamu menangis dik malam-malam seperti ini?”
Adik kecil yang keluar dari rumah karena mengejar kumbang, kini takut pulang karena kegelapan malam, saat ditanya malah semakin menjerit menjadi-jadi, di ulurkan tangan telunjuknya menunjuk suatu arah berharap di antarkan ke rumahnya.
Saya perhatikan dahulu kemilau apa masih setia menunggu saya di langit sana, sudah saya pastikan kemilau benar-benar setia. Saya antarkan aik kecil tanpa alas kaki ini kearah yang sejak tadi ia tunjuk, kebetulan atau memang sengaja ternyata arah yang di tunjuk seperti mendekatkan saya kepada kemilau jadi saya tak perlu takut kehilangan jejak kemilau. Sesampai di mengantarkan anak itu tak saya abaikan ucapan rasa syukur dan terimakasih yang keluar dari mulut keluarga sang anak, yang saya pikirkan saya harus lebih jelas melihat kemilau dan menjelaskan semuanya mengapa saya tidak hadir belakangan ini.
Saya nyalakan kembali sepeda motor dengan diengkol, menyelusuri lika-liku jalan yang hanya dapat di lalui satu buah motor dan pejalan kaki yang bergandengan, tak ada tempat untuk mobil apabila ingn melintas. Berharap tak ada yang menghalangi lagi pertemuannya dengan kemilau secara lebih dekat.
“Semakin dekat saya menghampiri mu”
Kilometer kecepatannya menerobos melebihi angka 100, sambil senyum-senyum tak sabar dengan apa yang ingin ia perbincangkan sejak kemarin-kemarin, dan ia ingin mnjelaskan hujan yang selalu menghalangi pertemuan mereka untuk berbincang dibawah sinarnya dan di bawah awan yang mengelilingi. Butiran air yang selalu hadir keroyokan, membuat kepala pening setiap merasakan tetesannya. Semua itu yang ingin ia jelaskan kepada kemilau.
Sesampai disana ia terkejut dengan apa yang ia dapatkan dan apa yang ia lihat ternyata
“Bandara”


 pengarang : Dhea Tiara Ningrum

Minggu, 17 November 2013

AYAH

Pagi itu dengan berbekal sebuah surat pernyataan dan tekad yang besar aku memberanikan diri untuk meminta ijin dari ayah untuk segera masuk kedalam dunia kerja. Bukan hanya surat, namun hasil dari berbagai tes yang telah ku lalui pun ikut serta didalamnya sebagai pendukung jika ayah meminta bukti kesiapan ku untuk memasuki dunia yang kejam itu.
“ayahhh… Maya boleh minta tanda tangan ayah gak disurat ini?” manja ku pada ayah
“surat apa?” sambil membaca isi surat
“surat pernyataan Yah, Maya mau minta ijin untuk kerja di sebuah perusahaan ternama, emang sih Cuma jadi buruh ajah tpi, Maya yakin berawal dari menjadi seorang buruh, Maya akan menjadi pemilik nya Yah. Gimana? Maya juga sudah ikut test kok, dan semua hasilnya bagus kok, ayah bisa lihat sendiri lampirannya”. Mencoba meyakinkan dengan berbagai alasan.
Tanpa berlama-lama ayah pun langsung memutuskan, dan miris nya tanpa komentar yang pasti, ayah tidak mengijinkan ku untuk langsung masuk dunia kerja, dia lebih memilihkan ku untuk masuk ke perkuliahan dulu, baru setelah itu ayah menyerahkan semua keputusannya padaku, mau jadi apa setelah aku menjadi wisudawati.
“mending kamu kuliah dulu, baru setelah jadi wisudawati, ayah menyerahkan semua keputusannya sama kamu, apa kamu masih mau jadi seorang pekerja atau menjadi orang yang memberikan pekerjaan.” Tegas ayah kepada ku
Sontak aku sedih, dari 30 teman sekelas ku hanya 5 orang saja yang lanjut ke perkuliahan, sisanya menjadi pekerja di berbagai perusahaan. Dan keirian itu bertambah tatkala aku melihat mereka yang sudah memiliki uang sendiri bisa begitu mudahnya membeli apa yang mereka inginkan tanpa harus meminta lagi dari orang tua mereka.
Dengan segala keterpaksaan akhirnya aku manut pada perintah ayah untuk kuliah di salah satu intitusi, ayah yang pada saat itu memang bersikeras memasukan ku ke institusi bahkan sampai rela menemani ku dalam setiap proses yang harus kulewati, mengantar dan menjemput, bahkan menunggu ku diparkiran. Padahal sebelum ini ayah belum pernah melakukan hal yang benar-benar dilakukan seorang ayah kepada anaknya, dimana semuanya hanya urusan pekerjaan dan pekerjaan.
Tak pelak aku pun bingung dibuatnya, kenapa ayah bersikeras ingin menjadikan aku seorang wisudawati? Kenapa ayah tak membiarkan aku untuk kerja saja? Bukankah penghasilan ku kelak bisa membantu juga? Bukankah biaya perkuliahan itu tidak murah? apa yang sebenarnya ayah harapkan? Dan berbagai pertanyaan lain pun membuat ku semakin bertanya-tanya dalam pikiran yang semakin buntu.
Memasuki tahun ajaran pertama aku mulai perkuliahan ku dengan bermain-main. Bagaimana tidak, mimpi ku untuk bisa bekerja masih lebih besar ketimbang harus mengenyam ilmu di perkuliahan, jarang mengerjakan tugas, bermalas-malasan, pergi kesana kemari mencari teman untuk bermain, tapi, sebesar apapun rasa malas ku, aku tak pernah absen ( bolos ) dikelas. Aku selalu masuk dan mengikuti pelajaran dengan baik, sekalipun perlajaran itu seperti angin yang keluar masuk begitu saja.
Pada tingkat awal juga aku menemukan “CCP”, yap mereka sahabat ku tercinta yang sampai saat ini masih setia menemani ku dalam berbagai kondisi. Kami terbentuk begitu saja dengan tidak langsung akrab begitu saja, kemana-mana selalu berlima, makan, main, karaokean, nonton atau sekedar melakukan kegilaan lainnya. Praktis tingkat satu hanya kami lalui dengan hal yang menurut ku gak ada tantangannya, seperti permainan di level satu yang mudah sekali untuk dilewati.
Masuk ke tingkat 2, kami harus menghadapi kenyataan pahit. Salah satu dari kami harus pindah yang membuat kami terpisahkan oleh jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh yaitu Depok – Bekasi, hanya jadwal yang berbeda membuat kami seolah tidak mungkin menjalin kebersamaan seperti dulu di tingkat satu. Sedih? Pasti ! secara kami selalu berdekatan entah dalam situasi dan kondisi apapun.
Selanjutnya kelas 2EB** lah yang menjadi tempat pemberhentian berikutnya untuk aku, dank ke-3 teman ku, tpi, ternyata hal pahit itu harus aku jalani lagi, salah satu teman kami harus pindah lagi karena mendapatkan beasiswa dari institusi kami. Awalnya satu, lalu satu lagi, dan hampir satu lagi, tpi tidak jadi.. hehehee dan tersisalah kami bertiga dikelas yang terkenal dengan nama “Kelas Awal”.
Pada awal tingkat ini pun aku masih saja berkutat dengan kemalasan dan keegoisan ku, hingga akhirnya peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang merubah semuanya.
Waktu itu aku dan sahabat ku yang lain sedang berada di mushola, disebuah pusat perbelanjaan megah di Bekasi.
*telepon berdering*
“assalamual’aikum, kenapa yah?”
“waalaikum salam, kamu dimana?” suara lirih
“Maya lagi di mall sama temen, baru ajah selesai survey tempat untuk bukber. Kenapa yah?”
“kalau sudah selesai kamu cepet kesini yah, temani ayah. Ayah baru saja dirawat, kaki ayah patah.” masih dengan suara lirih menahan sakit.
Airmata ku seketika itu juga jatuh bak air yang mengalir dari pegunungan, derasnya sama dengan hujan yang saat itu juga tengah membasahi bumi. Aku lajukan motor ku sekencang mungkin, tak perduli orang mau berkata apa. Ayah ku tengah terbaring sendirian di rumah patah tulang, sedang aku masih sempat-sempat nya main bersama teman ku. Anak macam apa aku ini? Setelah sekian lama ini ayah selalu bekerja demi menafkahi ku sekeluarga, aku masih saja tidak tahu diri.
Sampainya di RPT ( Rumah Patah Tulang ) dengan berbasah kuyup dan menitikan air mata aku tak hentinya mengaji untuk ayah, terlintas dibenak ku tentang ayah dihadapan ku, yang biasanya berdiri tegak dengan suara lantangnya memanggilku, berjalan kesana kemari tanpa kenal lelah demi mencari sesuap nasi. Kini hanya terkulai diatas ranjang kayu beralasan tikar dan bantal yang sudah sangat usang. Ayah terbaring dengan menahan sakit, suaranya sangat lirih. Malam itu hanya aku yang disuruh untuk menjaga ayah, karena ibuku sedang hamil tua dan yang lain tidak ada yang bisa untuk menemani ayah.
Semalaman dengan terus menjaga ayah ku, Aku terus memikirkan andai saja ayah ku tak terselamatkan, akan jadi apa aku kelak tanpanya? apa yang telah ku punya untuk menghidupi diriku? Ayah betapa bodohnya aku telah menyia-nyiakan mu. Aku tak ingin menyesal ayah, aku tak ingin membuat mu semakin sakit dengan semua tingkah ku, aku ingin membahagiakan mu dengan menjalani semua hal yang kau harapkan dalam diri ku.
Beberapa hari kemudian masih dalam masa perawatannya, tiba-tiba saja ayah menanyakan ku, akan jadi apa aku kelak, tapi aku hanya bisa terdiam. Bahkan ketika dia bertanya bagaimana tentang perkuliahan ku, aku pun hanya mampu tertegun sendiri. Sampai akhirnya ayah berkata “ ayah hanya ingin melihat kamu sukses melebihi ayah saat ini. Dulu ayah ingin sekali merasakan kuliah, tapi karena keterbatasan biaya ayah tidak bisa masuk fakultas yang ayah inginkan, dan sekaligus harus melupakan cita-cita ayah sebagai seorang teknisi. Andai saja dulu ayah bisa kuliah, mungkin ayah tidak akan seperti ini sekarang, mungkin ekonomi keluarga kita pun akan jauh lebih baik. Makanya ayah memasukan kamu ke perkuliahan, supaya kelak kamu tidak menjadi orang yang menyesal seperti ayah, supaya kelak hidup kamu lebih baik dari ayah. Percaya ya Maya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya sengsara, semua orang tua selalu mengininkan yang terbaik untuk anaknya. Kamu ngerti kan?”
Dan dari sekian banya omongan ayah itu, aku hanya mampu menjawab “iya” dengan terus menitikan air mata dipojokan kamar.
Aku terus berpikir dan menyesali semua perbuatan ku. Aku selalunya menghakimi ayah ku dengan semua hujatan yang tidak benar adanya. Aku selalu meremehkan perkuliahan ku, disamping aku tau bahwa tidak semua orang bisa masuk ke dunia perkuliahan seperti aku, banyak orang yang cita-citanya tidak bisa terealisasikan hanya karna keterbatasan biaya, sedang aku yang sudah sejauh ini didukung oleh ayah ku, malah meremehkannya dengan tidak focus dalam belajar dan selalu saja mementingkan hal lain dari kuliah. Padahal dalam hal yang bersamaan ayah pun menaruh harapan besar dalam diri ku untuk bisa jauh lebih baik darinya. Dan hari itu juga menjadi titik tolak ku dalam menjalani kehidupan ku yang baru, dimana aku mulai menaruh besar harapan ku pada gelar ku kelak, namun bukan hanya gelar tapi juga ilmu dan kualitas dalam gelar S1 ku kelak. Tidak hanya itu, untuk ayah pun aku putus kan untuk mulai belajar memasuki dunia usaha yang selama ini ayah geluti. Besar sekali harapan ayah pada ku, dan aku tak ingin menjadi anak yang hanya mampu memberikan harapan palsu pada ayah.

J

Kamis, 14 November 2013

Dimana?

malu rasanya jika aku umbar semua kepahitan disini
tapi, di lain hal sesak ini semakin menyiksa ku
semua yang bertentangan dengan ku
semua yang tak sepaham malah harus aku terima

dimana letaknya kebahagiaan jika surga ku ditindas
dimana letaknya kasih sayang jika yang ada hanya kekerasan
dimana letaknya pengorbanan jika baru segini saja selalu keluhan yang terlontar
dimana letaknya penghargaan kepada suami jika dia ringan tangan

di ufuk tempat fajar mulai nampak
atau di bagian lain ketika senja memudarkan cahaya matahari
lalu bulan menggantikan semua menjadi tampak sempurna
bahkan dari sekian banyaknya waktu yang ada, 
tak ada satupun waktu yang pantas untuk dirimu
mungkin ada, mungkin juga harus memaksa
dan kalaupun ada, waktu terakhir mu di dunia lah yang aku pilihkan untuk mu. 

Mimpi Part 2

aku masih bermimpi...
aku bisa terbang...
terbang dan gapai semua mimpi ku..
masih dengan lagu yang sama yang ku putar terus - menerus tanpa henti
namun dengan nada yang sejatinya sudah mulai ku resapi
semua lirik yang masih ku coba untuk mengerti
apa sebenarnya yang hendak si pembuat lagu smpaikan..

mimpi...
kenapa seolah mimpi menjadi hal yang sangat penting untuk biperbincangkan
kenapa semua orang sepertinya wajib sekali memiliki mimpi
kenapa mimpi selalu dijadikan patokan utama apakah kau sudah sukses atau belum
selalu saja semua membahas hal yang sama.. MIMPI

tapi mimpi...
apa benar mimpi itu masih ada...
termasuk kah aku dalam kategori Si Pemimpi Ulung
tpi mimpi, mau sampai kapan harus ku tahan mimpi di ujung pelapuk mataku
jika pada dasarnya saja aku tau bahwa selamanya ini hanya akan menjadi sebuah mimpi.

Mimpi part 1

aku bermimpi..
aku memiliki mimpi..
mimpi ku yang sangat tinggi 
kira - kira beginilah bagian dari lirik lagu yang sedang kudengarkan saat ini
dengan terus memungkiri hati yang masih sakit
aku terus mendengarkan lagu yang notabene tak aku suka
sambil masih terus mengetik entah apa yang akan ku tulis selanjutnya

dikejauhan aku memang masih memiliki mimpi
namun jelasnya aku tidak tau apakah aku akan melanjutkannya atau tidak
atau mungkin aku hanya akan terhenti disini
sangat pesimis, tak ada sedikitpun aku ingin bangkit dari keterpurukan ini

waktu, pada akhirnya mungkin waktu yang bisa jawab semua
namun, bagi ku waktu tak memiliki andil disini
karena semua kuasa ada ditangan ku
namun, sampai saat ini pun aku masih tak ingin bangkit dari mimpi ku
mimpi buruk yang sedang menimpa ku.

Biasa Berhenti

sebagai seorang anak yang biasa-biasa saja
lahir dari keluarga yang biasa
tinggal di perumahan yang biasa
dengan disekelilingi oleh tetangga yang biasa

perlahan aku pun tumbuh menjadi gadis yang biasa
semua memang tampak sama dan sangat biasa
terlalu biasanya sampai tak ada hal yang bisa diceritakan
hanya kebiasaan orang pada umumnya

sampai pada saatnya tiba
kebiasaan yang sewajarnya itu harus terhenti
semua kebiasaan yang biasa dilakukan harus segera berganti
tak ada kesamaan sedikitpun antara kemarin dan saat ini

perbedaan yang menjadikan ku ikut terhenti
yang membuat ku bingung untuk menghadapi semua ini
sangat kontras dengan kehidupan ku kini
ya, bagai paradoks yang memaksa ku benar-benar harus berhenti

Untuk Malam Ini

Ya Rabb...
untuk malam ini saja, kumohon ijinkan aku bernyanyi ditengah keheningan
untuk malam ini saja, damaikan aku dalam naungan MU
untuk malam ini saja, limpahkan aku dengan semua karunia MU

Ya Rahman...
harus kemana lagi kaki ini dilangkahkan
harus sampai kapan aku menjadi benalu
harus bagaimana lagi aku menghadapi semua ini

aku dikelilingi rasa bersalahku
semua rasa kesendirian yang menyatu
pikiran yang tersamar oleh sesal ku
terlebih kosongnya jiwa tanpa kehadiran MU

ku mohon..
untuk malam ini saja, temani aku
dekap aku dalam balutan hangatnya kasih MU
lalu sadarkan aku dari buruknya niat ku.

kalender enna


jam kuu

Cuteki kawaii

Blogger news

Get Free Music at www.divine-music.info
Get Free Music at www.divine-music.info

Free Music at divine-music.info

my dotta